It's about sports, entertainment, politics and celebrity news
Syahrul Yasin Limpo Ungkap Soal PPN Sembako & Stok Beras Nasional Di Saat PPKM Darurat Mikro
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Siaran berita di televisi
nasional, radio, koran, media online dan tentu saja di media sosial terjadi perbincangan
hangat soal sembako seperti beras yang dihebohkan akan dikenai Pajak
Pertambahan Nilai atau (PPN). Karena itu menarik untuk menyimak informasi dari
Kementerian Pertanian terkait masalah ini.
Syahrul Yasin Limpo yang
diangkat sebagai Menteri Pertanian oleh Presiden Joko Widodo di Kabinet
Indonesia Maju menegaskan bahwa ketersediaan beras nasional saat ini aman.
Karena itu Indonesia tidak perlu dilakukan impor beras.
Pemerintah juga tidak
akan memberlakukan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap beras, yang merupakan
jenis sembako yang dikonsumsi mayoritas warga Indonesia.
Sebagaimana dilansir dari
HUMAS Kementerian Pertanian RI oleh situs resmi setkab.go.id (9/7/2021),
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan dengan tegas pada 8 Juli 2021
bahwa, “Impor beras dan PPN sembako umum itu tidak ada. Ini adalah
pikiran-pikiran yang ada di sebagian pihak dan menjadi sebuah isu karena sampai
sekarang ini pemerintah belum pernah merancang untuk kenaikan PPN sembako.
Kalaupun itu ada pasti Menteri Pertanian tahu. Jadi jangan membuat petani
resah,”
Sesuai arahan Presiden bahwa
pemerintah Indonesia tidak akan mengimpor beras. Terkait hal tersebut Menteri
Pertanian asal Sulawesi Selatan ini kembali menegaskan, “Presiden Jokowi pun
sudah tegas mengatakan impor beras itu tidak ada. Bahwa boleh saja orang-orang
melempar isu seperti itu. Dan bahkan Pak Presiden katakan dari mana rumor itu.
Pemerintah tidak pernah membicarakan rencana impor beras dan kenaikan PPN sembako,”
Syahrul lebih lanjut menyampaikan bahwa alasan
tidak diperlukannya impor beras karena sampai saat ini Indonesia memiliki
cadangan beras yang cukup banyak baik, yang ada pada pengendalian langsung
Perum Badan Urusan Logistik (BULOG), penggilingan, yang juga ditangani penanganannya
oleh pemerintah daerah (pemda).
Kemudian diinformasikan
pula bahwa produksi beras pada masa tanam (MT) I Tahun 2021 adalah sebesar
17,56 juta ton. Dari hasil produksi ini Indonesia memiliki surplus beras pada
Januari 2020 sebesar 7,39 juta ton, sementara jumlah konsumsi nasional 14,67
juta ton, sehingga akhir Juni 2021 terdapat surplus beras sebanyak 10,29 juta
ton.
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Pertanian dan Kepala BULOG ketika berbincang dengan para petani setelah panen di Indramayu, Jawa Barat (setkab.go.id)
Dalam keterangannya
Menteri Pertanian juga menerangkan bahwa, “Oleh karena itu, dalam kondisi
COVID-19 dan berbagai pembatasan, pangan kita terkendali dengan baik. Ini
hampir setiap minggu dicek oleh Bapak Presiden dan kemarin dalam rapat virtual,
Bapak Presiden meminta agar pengendalian pangan untuk kebutuhan nasional
sepenuhnya di bawah kendali beberapa menteri untuk dipersiapkan maksimal,”
Alasan Kedua adalah bahwa impor
beras tidak diperlukan karena masa tanam II 2021 (kemarau basah) juga telah
dimulai. Dengan demikian panen di masa pertengahan tahun berpotensi menambah
stok pangan nasional.
Kementerian Pertanian RI
menargetkan produksi beras pada MT II sebesar 14,25 juta ton dengan surplus
beras di awal Juli 10,29 juta ton, sementara konsumsi beras adalah 14,91 juta
ton, sehingga akhir Desember 2021 diperkirakan terdapat surplus stok beras
sebesar 9,63 juta ton.
Lalu Syahrul Yasin Limpo
menjelaskan bahwa, “Pada aspek harga, pergerakan harga beras medium di pasaran
relatif stabil tanpa kenaikan signifikan. Harga gabah di tingkat penggilingan
yang relatif stabil dan mengalami penurunan indikasi produksi cukup tinggi,”
Yang ketiga, bahwa stok
beras sampai ini di Perum BULOG dalam bentuk cadangan beras pemerintah tersedia
sebanyak 1,37 juta ton. Hal ini adalah di atas batas aman 1 juta ton. Sementara
itu stok beras komersial 13,969 ton.
Bahwa penyaluran beras
untuk kepentingan stabilisasi harga, pasokan, dan kebencanaan per bulan 80 ribu
ton. Dengan demikian maka stok beras di masa pandemi ini, aman sampai dengan
akhir tahun.
Menteri Pertanian juga
menegaskan bahwa, “Kalau melihat data ini, ketersediaan pangan berjalan dengan
baik. Sesuai perintah Bapak Presiden, saya setiap hari turun ke lapangan. Jadi
satu-satunya yang kita harapkan tidak boleh berhenti adalah kesiapan dan
akselerasi pangan. Dari sinilah pangan tersedia, lapangan kerja juga tetap
jalan dan ekonomi dasar tetap berputar,”
Mengingat beras merupakan
sajian penting di meja makan masyarakat Indonesia, Menteri Pertanian juga memaparkan
bahwa, “Kementan telah merumuskan lima cara bertindak (CB) sektor Pertanian di
masa pandemi, sebagai upaya penyediaan ketersediaan pangan dan pemulihan
ekonomi nasional,”
Kemudian Syahrul menerangkan
pula, “Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan bantuan pembiayaan pertanian
sebagai upaya menjaga produksi dan kesejahteraan petani. Bantuan ini melalui
dana KUR dengan bunga hanya 6 persen. Total dana KUR tahun ini Rp70 triliun dan
baru terserap Rp36 triliun. Kami dorong petani agar menggunakan dana KUR ini
sehingga pertanian kita semakin maju,”
Di tengah pandemi global
dan pada saat diberlakukannya PPKM Darurat Mikro ini Kementerian Pertanian
telah melaksanakan arahan Presiden Jokowi agar stok beras selalu aman sepanjang
tahun. Yang menggembirakan adalah para petani telah berhasil menghasilkan padi,
sehingga stok beras yang dikelola pemerintah juga sukses mencapai surplus.
Menarik pula disimak tayangan berikut tentang pengalaman Mongol Stres ketika diundang makan siang oleh Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan pada 2019. Penting untuk tertawa sejenak agar imunitas tetap terjaga, juga lumayan untuk mengurangi stres.
Comments
Post a Comment